>>>>

Selamat Datang di Website UPT Balai Pelatihan Penyuluh Pertanian. Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau === Visi : “Terwujudnya Sumber Daya Manusia Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan yang Andal dan Profesional”

Informasi

Salam Pemberdayaan

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

PM Admin | Jumat, 21 April 2017 - 09:51:32 WIB | dibaca: 488 pembaca

Salam Pemberdayaan

Oleh :  Nazaruddin Margolang, S.IP.,M.Si, Widyaiswara Madya UPT Pelatihan TPH Riau

 

A.    PENDAHULUAN

Upaya meningkatkan pendapatan yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu tujuan pembangunan. Banyak cara yang dilakukan dalam memacu pembangunan, salah satunya dilakukan dengan melakukan pengembangan sumberdaya manusia baik sebagai pelaku maupun objek dari pembangunan tersebut yang selalu kita dengan dengan istilah pemberdayaan masyarakat.

Dengan kata lain pembangunan tidak akan mencapai tujuannya, jika pemberdayaan tidak dilakukan atau dengan kata lain peningkatan mutu petani dan atau masyarakat tidak diupayakan. Sejauh ini upaya peningkatan sdm petani dilakukan melalui upaya penyuluh yang dirancang sebagai upaya merubah perilaku petani agar melakukan usaha tani lebih baik.

Dalam sejarah penerapan penyuluhan peranian telah berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun 1984, yang merupakan suksesnya kerja penyuluh di lapangan dalam melakukan perubahan sikap mental masyarakat petani padi sehingga dapat meningkatkan produksi beras. Namun lebih jauh dari itu penyuluhan bertujuan akhir meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sebagai sasaran.

Tugas penyuluh sebagai agen perubahan adalah alih teknologi, cendrung dianggab dalam rangka transfer teknis budidaya. Sesungguhnya tugas ini, tidaklah sesederhana itu baik di masa kini apalagi di masa mendatang. Tuntutan pembangunan pertanian berwawasan agribisnis yang merupakan pendekatan sistem dibutuhkan pemahaman yang komprehensif. Hal ini memerlukan umpan balik yang konkrit dari berbagai kalangan yang terkait erat dengan penyuluhan sebagai pelayan public.

Kegiatan penyuluhan pada prinsipnya adalah pemberdayaan secara berkesinambungan dengan memaksimalkan potensi dan kemapuan yang digalang dan dibina untuk mewujudkan penyuluhan yang efektif dan petani berorientasi komersil kini dan mendatang.

Oleh sebab itu seorang penyuluh harus memahami konsep pemberdayaan dalam melakasanakan kegiatannya. Seorang penyuluh haruslah memahami bahwa pembinaan petani tersebut sesungguhnya adalah upaya pemberdayaan petani agar mereka mau dan mampu melepaskan dirinya dari  belenggu kemiskinan.

 

B.    PENGERTIAN

Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) kadang-kadang sangat sulit dibedakan dengan penguatan masyarakat serta pembangunan masyarakat (community development). Karena prakteknya saling tumpang tindih, saling menggantikan dan mengacu pada suatu pengertian yang serupa.

Secara umum definisi pemberdayaan adalah upaya untuk memulihkan atau meningkatkan keberdayaan suatu komunitas untuk mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat, hak-hak dan tanggung jawab mereka sebagai manusia dan warga Negara. Selain itu pemberdayaan juga didefinisikan sebagai segala usaha untuk membebaskan masyarakat miskin dari belenggu kemiskinan.

Pendapat dari Cook (1994) menyatakan pembangunan masyarakat merupakan konsep yang berkaitan dengan upaya peningkatan atau pengembangan masyarakat menuju kearah yang positif. (www.permberdayaan.com)

Berdasarkan persinggungan dan saling menggantikannya pengertian community  development dan community empowerment, secara sederhana, Subejo dan Supriyanto (2004) memaknai pemberdayaan masyarakat sebagai upaya yang disengaja untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam merencanakan, memutuskan dan mengelola sumberdaya lokal yang dimiliki melalui collective action dan networking sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian secara ekonomi, ekologi, dan sosial”. (www.permberdayaan.com)

Dalam bahasa Inggris, pemberdayaan disebut sebagai empowerment, yang mempunyai makna dasar ‘pemberdayaan’, di mana ‘daya’ bermakna kekuatan (power).

Menurut Sulistiyani (2007) pemberdayaan sebagai rangkaian tindakan yang dilakukan secara kronologis sistematis yang mencerminkan pentahapan upaya mengubah masyarakat yang kurang atau belum berdaya menuju: berdaya, memperoleh daya atau pemberian daya. Pada hakekatnya pemberdayaan merupakan penciptaan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat dengan harus mengantarkan pada proses kemandirian. Dengan demikian, pemberdayaan bertujuan untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Kemandirian individu dan masyarakat ini perlu dilindungi supaya dapat terpupuk, terpelihara, terbentuk, dan tertanam dengan baik sehingga dapat membentuk kedewasaan sikap masyarakat, dimana dalam dirinya telah ada keyakinan bahwa penting melakukan sesuatu untuk mencapai hasil optimal (dalam Yasin Fachry)

Konsep lain menyatakan bahwa pemberdayakan mempunyai dua makna, yakni mengembangkan, memandirikan, menswadayakan dan memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan. Makna lainnya adalah melindungi, membela dan berpihak kepada yang lemah, untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang dan terjadinya eksploitasi terhadap yang lemah (Prijono dan Pranarka, 1996). (www.permberdayaan.com)

Dalam pandangan Pearse dan Stiefel dinyatakan bahwa pemberdayaan mengandung dua kecenderungan, yakni primer dan sekunder. Kecenderungan primer berarti proses pemberdayaan menekankan proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya. Sedangkan kecenderungan sekunder melihat pemberdayaan sebagai proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihannya (Prijono dan Pranarka, 1996). (www.permberdayaan.com)

Sedangkan dalam tulisan ini pengertian “pemberdayaan” dimaknai sebagai segala usaha untuk membebaskan masyarakat miskin dari belenggu kemiskinan yang menghasilkan suatu situasi di mana kesempatan-kesempatan ekonomis tertutup bagi mereka, karena kemiskinan yang terjadi tidak bersifat alamiah semata, melainkan hasil berbagai macam faktor yang menyangkut kekuasaan dan kebijakan, maka upaya pemberdayaan juga harus melibatkan kedua faktor tersebut.

Salah satu indikator dari keberdayaan masyarakat adalah kemampuan dan kebebasan untuk membuat pilihan yang terbaik dalam menentukan atau memperbaiki kehidupannya. Konsep pemberdayaan merupakan hasil dari proses interaksi di tingkat ideologis dan praksis. Pada tingkat ideologis, pemberdayaan merupakan hasil interaksi antara konsep top-down dan bottom-up, antara growth strategy dan people centered strategy. Sedangkan di tingkat praksis, proses interaksi terjadi melalui pertarungan antar ruang otonomi. Maka, konsep pemberdayaan mencakup pengertian pembangunan masyarakat (community development) dan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat (community based development). Community development adalah suatu proses yang menyangkut usaha masyarakat dengan pihak lain (di luar sistem sosialnya) untuk menjadikan sistem masyarakat sebagai suatu pola dan tatanan kehidupan yang lebih baik, mengembangkan dan meningkatkan kemandirian dan kepedulian masyarakat dalam memahami dan mengatasi masalah dalam kehidupannya, mengembangkan fasilitas dan teknologi sebagai langkah meningkatkan daya inisiatif, pelayanan masyarakat dan sebagainya. Secara filosofis, community development mengandung makna ‘membantu masyarakat agar bisa menolong diri sendiri’, yang berarti bahwa substansi utama dalam aktivitas pembangunan masyarakat adalah masyarakat itu sendiri.

 

C.   TUJUAN PEMBERDAYAAN

Pemberdayaan petani merupakan upaya mendorong, melindungi tumbuh dan berkembangnya kekuatan ekonomi  local serta penguasaan IPTEK oleh Petani yang berbasis kekuatan rakyat  secara  efektif dan efisien atas potensi sumberdaya local untuk kepentingan petani.

3 Tujuan pemberdayaan :

1.    Mengembangkan kemampuan (berusaha, mencari informassi, dan mengelola kegiatan) masyarakat

2.    Mengubah perilaku masyarakat

3.    Mengorganisir diri masyarakat

 

D.   STRATEGI DAN TAHAPAN UMUM PENGEMBANGAN

1.    Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

Pengembangan SDM  diawali dengan upaya peningkatan  kesadaran dan kepercayaan diri. Hal ini perlu dilakukan sebagai tahapan awal dalam pengembangan SDM. Pendekaatan yang dilakukan tentunya berkaitan dengan aspek Psikologis dan aspek Budaya.

Tahapan selanjutnya dilakukan dengan upaya peningkatan pendapatan melalui pendekatan aspek sumberdaya yang tersedia, Modal yang dapat dikembangkan, Pasar yang dapat diciptakan dan teknologi yang dapat diterapkan.

Tahapan terakhir adalah Peningkatan kesejahteraan, pada tahap ini masyarakat binaan telah memiliki pendapatan yang dapat menghidupi dirinya dan keluarganya. Selanjutnya perlu ditingkatkan dengan upaya meningkatkan kesejahteraannya. Pendekatan yang digunakan meliputi aspek ekonomis, kerohanian, kesehatan, Keluarga Berencana, Pendidikan, Hukum, dan Lingkungan Hidup.

 

2.    Strategi Pengembangan Permodalan

Usaha pengembangan permodalan diawali dengan upaya menghilangkan ketergantungan dan menumbuhkan keswadayaan lalu mengarahkannya menuju system ekonomi rakyat.

Upaya ini dilakukan dengan mengumpulkan dana bersama dalam kelompok sebagai upaya mengakumulasi modal dengan menabung. Selanjutnya untuk mempercepat pengembangan modal dalam berusaha dilakukan dengan bantuan Kredit bersubsidi.

Pada tahap ini Kelompok di arahkan untuk membentuk LKM (Lembaga Keuangan Mikro). Upaya pemupukan modal dengan bantuan kredit modal dilakukan sampai pertumbuhan modal melibihi kredit bersubsidi yang diberikan. Pada saat itu LKM sudah dapat dikembangkan menjasi institusi keuangan yang berbadan hukum. Terakhir LKM dan Anggota masyarakat disamping memanfaatkan permodalan yang ada di LKM juga telah mampu memanfaatkan Kredit Komersial dari Bank.  

 

3.    Strategi Pengembangan Kelembagaan Usaha

Pengembangan Kelembagaan Usaha diawali dengan tumbuhnya  usaha dalam rumah tangga setiap anggota. Dengan  memiliki usaha akan menumbuhkan sikap wirausaha yang pada akhirnya akan menumbuhkan sikap bagaimana agar usaha yang dilakukan dapat meningkat atau perlu dilakukan berbagai modifikasi. Hal ini tentunya perlu diskusi dengan berbagai pihak, Pada saat itu masing-masing anggota kelompok memerlukan kelompok sebagai wahana diskusi dan kelas belajar.

Dalam kelompok ini diharapkan Anggota Kelompok dapat mengembangkan usaha sehingga terbentuklah usaha bersama dalam kelompok. Selanjutnya Kelompok ini akan berkembang menjadi lebih besar yang akan meningkatkan kelompok usahanya menjadi kelompok usahha menengah. Terakhir akan berkembanga menjadi usaha yang beskala besar. 

 

4.    Strategi Pengembangan Usaha

Usaha masing-masing anggota biasanya diawali dengan  memanfaatkan apa yang ada dalam lingkungannya (sumberdaya yang dimiliki). Tenaga kerja yang digunakan juga apa adanya, dengan tingkat keterampilan dan pendidikan yang tidak perlu dipertimbangkan kesesuaiannya dengan usaha.

Dengan berkembangnya usaha maka kekuatan investor dan pengembangan industry hilir sudah mulai di kembangkan, pola usaha juga sudah mulai terpadu.

Tahap selanjutnya optimalisasi sumberdaya di lakukan dengan penerapan teknologi modern, dan menggunakan tenaga  yang ahli.

 

E.    KEGIATAN AWAL

Seperti yang dilaporkan Deliveri (2004), proses pemberdayaan masyarakat mestinya juga didampingi oleh suatu tim fasilitator yang bersifat multidisplin. Tim pendamping ini merupakan salah satu external factor dalam pemberdayaan masyarakat. Peran tim pada awal proses sangat aktif tetapi akan berkurang secara bertahap selama proses berjalan sampai masyarakat sudah mampu melanjutkan kegiatannnya secara mandiri.

Dalam operasionalnya inisiatif tim pemberdayaan masyarakat (PM) akan pelan-pelan dikurangi dan akhirnya berhenti. Peran tim PM  sebagai fasilitator akan dipenuhi oleh pengurus kelompok atau pihak lain yang dianggap mampu oleh masyarakat.

Waktu pemunduran tim PM tergantung kesepakatan bersama yang telah ditetapkan sejak awal program antara tim PM dan warga masyarakat. Berdasar beberapa pengalaman dilaporkan bahwa pemunduran Tim PM dapat dilakukan minimal  3 tahun setelah proses dimulai dengan tahap sosialisasi. Walaupun tim sudah mundur, anggotanya tetap berperan, yaitu sebagai pensehat atau konsultan bila diperlukan oleh masyarakat. (www.pemberdayaan.com)

 

F.    DAFTAR PUSTAKA ;

Admin  http://www.pemberdayaan.com. 2009.  Konsep Pemberdayaan, Membantu Masyarakat Agar Bisa Menolong Diri Sendiri. http://www.pemberdayaan.com/Pemberdayaan Masyarakat/konsep-pemberdayaan-membantu-masyarakat-agar-bisa-menolong-diri-sendiri.html

Admin  http://www.pemberdayaan.com. 2009. Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Berkelanjutan. http://www.pemberdayaan.com/pembangunan/pemberdayaan-masyarakat-dan-pembangunan-berkelanjutan.html

Parwoto,  Pemberdayaan Masyarakat, Konsep Pembangunan Yang Berbasis Pada Masyarakat, Modul Pratugas (Fasilitator)P2kp 3

 

Suwandi, Mm, Bahan Sosialisasi Program Pengembangan Kawasan Agropolitan, Pusat Pengembangan Kewirausahaan Agribisnis, Badan Pengembanagn Sdm Pertanian, Jakarta

 

Tatang A. Taufik, PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Pusat Teknologi Informasi Dan Komunikasi (PTIK), Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT)

 

Yasin A. Z. Fachri., 2010.  Pemberdayaan Dan Penguatan Kelembagaan Petani Di  Lokasi Operasi Pangan Riau Makmur, Makalah pada Pertemuan Apresiasi Operasi Pangan Riau Makmur Bagi Camat dan Lurah se-Provinsi Riau, Pekanbaru, 25-27 Juli 2010, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau